Saturday, 30 April 2016

Awal Baru

Kelulusan dan SM-3T
Hari kelulusan
Siang itu adalah pertengahan bulan oktober 2013, hari dimana aku menyandang gelar baru sebagai sarjana pendidikan. Status baru berarti tanggung jawab baru. Sekarang aku bukan lagi mahasiswa yang bisa bersantai ria seperti dulu. Sesaat aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Tiba-tiba HPku bergetar pelan. Aku tersenyum membaca sebuah pesan singkat berisi ucapan selamat dari sahabat karibku semasa SMA dulu. Refleks, aku memandang berkeliling mencarinya. Seharusnya hari ini ia juga wisuda bersamaku, namun tak kulihat sosok lincahnya di deretan wisudawan jurusan PGSD. Teryata ia malah mengabarkan bahwa ia sedang berada di ujung timur Indonesia, di sebuah kota bernama Yahukimo, kota yang bahkan belum pernah ku dengar namanya. Ia kemudian bercerita tentang program SM3T yang mengajak lulusan sarjana pendidikan untuk mengajar di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Keren sekali, itu pendapat pertama yang muncul di benakku. Tapi membayangkan harus tinggal di pedalaman papua dengan fasilitas serba terbatas membuat nyaliku ciut. Pikiran tentang SM3T pun menguap begitu saja, dan aku mulai disibukkan dengan rutinitas baruku mengajar di sebuah bimbel di kotaku.
Tangan takdir ternyata menuntunku kembali kepada SM3T. Suatu hari ketika sedang browsing di internet, tanpa sengaja aku mendapat informasi tentang pembukaan pendaftaran SM3T angkatan 4. Iseng aku buka dan aku baca informasi tersebut. Semakin kubaca, semakin aku jatuh cinta. Namun, bayangan mengerikan tentang hidup di luar jawa masih juga menghantuiku. Ah.. tapi kupikir tidak ada salahnya coba mendaftar. 
Kegiatan prakondisi
Keisenganku ternyata benar-benar membawaku sampai ke luar jawa. Aku lolos seleksi dan harus segera berangkat mengikuti kegiatan prakondisi. Wisma sinode Salatiga menjadi tempat para peserta SM3T angkatan 4 ditempa dan dididik.  Disana aku bertemu teman-teman bermental baja yang siap berjuang di luar jawa. Kami berasal dari berbagai macam universitas dan jurusan. Dan aku bertemu dengan tiga teman kuliahku dulu dari Universitas negeri Semarang jurusan bahasa Inggris. Mereka adalah Rio, Wawan, dan Arsyi. Semangatku ikut terpompa bersama riuh rendah yel-yel yang kami teriakkan setiap hari. Kami berlajar banyak hal. Mulai dari pendalaman materi, pembuatan bahan ajar, microteaching, wawasan kebangsaan, dan adaptasi. Kemudian tiba-tiba saja 12 hari prakondisi di salatiga cepat sekali berlalu. Kami harus berpisah.. menuju daerah yang berbeda-beda. Dan aku akan di kirim ke Ende,sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Timur.
Hari terakhir prakondisi
Sebuah dilemma sempat meliputiku. Ibuku mendadak melarangku pergi. Berbagai macam mimpi buruk menghantuinya, bahwa aku tidak akan bahagia disana. Tambahan lagi, aku mendapat kabar bahwa nenekku satu – satunya kritis dan terbaring di ICU. Itu adalah saat dimana kemantapan hatiku benar-benar diuji. Sampai akhirnya aku memantapkan diri untuk tetap berangkat. Sudah sejauh ini.. aku tidak ingin mundur begitu saja. Akhirnya hari keberangkatanku sudah di depan mata. Keluargaku mengantarku menuju bandara. Ku peluk ayah dan ibuku. Kutunjukkan pada mereka semangatku agar ayah dan ibuku sanggup melepasku dengan tersenyum.
Dari jendela pesawat kutatatap hamparan sawah-sawah yang semakin menjauh. Aku menyemangati diriku sendiri. Ku bisikkan harapan positif bahwa tempat yang kutuju nanti adalah tempat yang menyenangkan, bahwa ini adalah titik awal perjuanganku sebagai guru, sebagai ujung tombak negeri ini. Pesawat berhenti di bandara Ngurah Rai Bali dan kamipun harus berganti ke pesawat yang lebih kecil. Ternyata jalur penerbangan ke kota Ende harus menggunakan pesawat baling-baling yang menurutku tampak sedikit ekstrim. Benar saja, pesawat ini berdengung dan berguncang beberapa kali selama penerbangan kami menuju Ende. Sensasi bahwa kami segera menuju daerah 3T semakin terasa. Namun karena lelah tanpa sadar aku terlelap, tenggelam dalam mimpi yang tidak dapat kuingat. Entah berapa lama aku tertidur,  ketika aku membuka mata dan melongok ke jendela pesawat pemandangan yang kulihat membuatku terpana. Hamparan pulau tropis berwarna coklat..putih..hijau..dan pink! Ya, pink. Dikelilingi selimut biru yang berkilau-kilau. Dimana aku? Apa aku masih bermimpi? Belakangan aku baru tahu bahwa aku berada di atas Labuan bajo, sebuah kota di ujung barat pulau flores. Warna pink yang kulihat dari atas tadi adalah deretan pasir pantai pink yang tersohor keindahannya itu. Belum 2 jam aku meninggalkan pulau jawa, aku sudah disuguhi karya Tuhan yang begitu indahnya, yang tidak akan kulihat jika aku tidak keluar dari pulau jawa. Aku merasa bersyukur atas pilihanku mengikuti program SM3T. Aku semakin mantap melangkah. Yakin, bahwa setahun kedepan akan penuh dengan hal – hal indah seperti ini.

No comments:

Post a Comment