Kelulusan dan SM-3T
 |
| Hari kelulusan |
Siang itu adalah pertengahan bulan oktober 2013, hari
dimana aku menyandang gelar baru sebagai sarjana pendidikan. Status baru
berarti tanggung jawab baru. Sekarang aku bukan lagi mahasiswa yang bisa
bersantai ria seperti dulu. Sesaat aku tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Tiba-tiba HPku bergetar pelan. Aku tersenyum membaca sebuah pesan singkat
berisi ucapan selamat dari sahabat karibku semasa SMA dulu. Refleks, aku
memandang berkeliling mencarinya. Seharusnya hari ini ia juga wisuda bersamaku,
namun tak kulihat sosok lincahnya di deretan wisudawan jurusan PGSD. Teryata ia
malah mengabarkan bahwa ia sedang berada di ujung timur Indonesia, di sebuah
kota bernama Yahukimo, kota yang bahkan belum pernah ku dengar namanya. Ia
kemudian bercerita tentang program SM3T yang mengajak lulusan sarjana
pendidikan untuk mengajar di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Keren
sekali, itu pendapat pertama yang muncul di benakku. Tapi membayangkan harus
tinggal di pedalaman papua dengan fasilitas serba terbatas membuat nyaliku
ciut. Pikiran tentang SM3T pun menguap begitu saja, dan aku mulai disibukkan
dengan rutinitas baruku mengajar di sebuah bimbel di kotaku.
Tangan takdir ternyata menuntunku kembali kepada SM3T.
Suatu hari ketika sedang browsing di internet, tanpa sengaja aku mendapat
informasi tentang pembukaan pendaftaran SM3T angkatan 4. Iseng aku buka dan aku
baca informasi tersebut. Semakin kubaca, semakin aku jatuh cinta. Namun, bayangan
mengerikan tentang hidup di luar jawa masih juga menghantuiku. Ah.. tapi
kupikir tidak ada salahnya coba mendaftar.
 |
| Kegiatan prakondisi |
Keisenganku ternyata benar-benar
membawaku sampai ke luar jawa. Aku lolos seleksi dan harus segera berangkat
mengikuti kegiatan prakondisi. Wisma sinode Salatiga menjadi tempat para
peserta SM3T angkatan 4 ditempa dan dididik. Disana aku bertemu teman-teman bermental baja
yang siap berjuang di luar jawa. Kami berasal dari berbagai macam universitas dan jurusan. Dan aku bertemu dengan tiga teman kuliahku dulu dari Universitas negeri Semarang jurusan bahasa Inggris. Mereka adalah Rio, Wawan, dan Arsyi. Semangatku ikut terpompa bersama riuh rendah
yel-yel yang kami teriakkan setiap hari. Kami berlajar banyak hal. Mulai dari pendalaman materi, pembuatan bahan ajar, microteaching, wawasan kebangsaan, dan adaptasi. Kemudian tiba-tiba saja 12 hari
prakondisi di salatiga cepat sekali berlalu. Kami harus berpisah.. menuju
daerah yang berbeda-beda. Dan aku akan di kirim ke Ende,sebuah kabupaten di
Nusa Tenggara Timur.
 |
| Hari terakhir prakondisi |
Sebuah dilemma sempat meliputiku. Ibuku mendadak
melarangku pergi. Berbagai macam mimpi buruk menghantuinya, bahwa aku tidak
akan bahagia disana. Tambahan lagi, aku mendapat kabar bahwa nenekku satu –
satunya kritis dan terbaring di ICU. Itu adalah saat dimana kemantapan hatiku
benar-benar diuji. Sampai akhirnya aku memantapkan diri untuk tetap berangkat.
Sudah sejauh ini.. aku tidak ingin mundur begitu saja. Akhirnya hari
keberangkatanku sudah di depan mata. Keluargaku mengantarku menuju bandara. Ku
peluk ayah dan ibuku. Kutunjukkan pada mereka semangatku agar ayah dan ibuku
sanggup melepasku dengan tersenyum.
Dari jendela pesawat kutatatap hamparan sawah-sawah yang
semakin menjauh. Aku menyemangati diriku sendiri. Ku bisikkan harapan positif
bahwa tempat yang kutuju nanti adalah tempat yang menyenangkan, bahwa ini
adalah titik awal perjuanganku sebagai guru, sebagai ujung tombak negeri ini.
Pesawat berhenti di bandara Ngurah Rai Bali dan kamipun harus berganti ke
pesawat yang lebih kecil. Ternyata jalur penerbangan ke kota Ende harus
menggunakan pesawat baling-baling yang menurutku tampak sedikit ekstrim. Benar
saja, pesawat ini berdengung dan berguncang beberapa kali selama penerbangan
kami menuju Ende. Sensasi bahwa kami segera menuju daerah 3T semakin terasa.
Namun karena lelah tanpa sadar aku terlelap, tenggelam dalam mimpi yang tidak
dapat kuingat. Entah berapa lama aku tertidur,
ketika aku membuka mata dan melongok ke jendela pesawat pemandangan yang
kulihat membuatku terpana. Hamparan pulau tropis berwarna
coklat..putih..hijau..dan pink! Ya, pink. Dikelilingi selimut biru yang
berkilau-kilau. Dimana aku? Apa aku masih bermimpi? Belakangan aku baru tahu
bahwa aku berada di atas Labuan bajo, sebuah kota di ujung barat pulau flores.
Warna pink yang kulihat dari atas tadi adalah deretan pasir pantai pink yang
tersohor keindahannya itu. Belum 2 jam aku meninggalkan pulau jawa, aku sudah
disuguhi karya Tuhan yang begitu indahnya, yang tidak akan kulihat jika aku
tidak keluar dari pulau jawa. Aku merasa bersyukur atas pilihanku mengikuti
program SM3T. Aku semakin mantap melangkah. Yakin, bahwa setahun kedepan akan penuh
dengan hal – hal indah seperti ini.
No comments:
Post a Comment