Saturday, 30 April 2016

Kota Pancasila

Endenesia

Setelah perjalanan selama kurang lebih 4 jam, tibalah aku dan teman-temanku di bandara Aroeboesman kota Ende. Tidak seperti bandara-bandara di jawa, bandara ini sangat sepi dan sederhana. Tapi justru aku sangat menyukainya. Bandara ini cukup bersih dan nyaman. Bahkan kota kelahiranku saja tidak memiliki bandara sendiri. Kesan pertamaku adalah, kota ini sangat potensial.

Bandara H. Aroeboesman Ende
Kami disambut oleh kakak SM3T angkatan 3 yang sebentar lagi akan selesai bertugas. Kami saling berkenalan dan mulai berbagi cerita. Kemudian kami diantar menuju wisma untuk beristirahat. Dalam perjalanan, mata kami mulai menjelajahi sudut-sudut kota Ende yang cukup ramai. Kota yang disebut sebagai kota kelahiran pancasila ini ternyata sudah maju. Bahkan mungkin lebih maju dari kabupaten Temanggung tempat asalku jika dilihat dari keberadaan sebuah bandara dan dua buah pelabuhan di kota ini. Akses menuju tempat ini sudah sangat mudah. Jadi seharusnya kota ini sangat potensial bukan? Namun mengapa kota ini menjadi sasaran penempatan guru SM3T? Belakangan baru kami ketahui bahwa ternyata kesenjangan di kabupaten ini sangat tinggi.
Monumen Pancasila
Ende merupakan sebuah kabupaten dengan luas wilayah kurang lebih 2046 km2. dengan populasi penduduk 238.040 jiwa. Kabupaten Ende terdiri dari 21 kecamatan dengan Kota Ende sebagai ibu kotanya.  Dari ke 21 kecamatan ini, beberapa kecamatan dapat dikatakan masih sangat tertinggal. Kecamatan – kecamatan tertinggal inilah yang sangat membutuhkan bantuan guru SM3T. Jangan dibayangkan bahwa jarak dari satu kecamatan ke kecamatan lain itu dekat seperti di jawa. Luas sebuah kecamatan di Ende seperi luas sebuah kabupaten di jawa. Perjalanan darat menjadi tantangan yang cukup dahsyat. Jalanan yang berliku-liku, sempit, dan rawan longsor mau tidak mau harus kami lewati. Rata-rata kami harus menempuh jarak 4-6 jam untuk menuju ke daerah penugasan. 
Otto kayu, kendaraan khas Ende, NTT
Kendaraan yang umum digunakan disana adalah oto kayu, sebutan untuk truk yang telah dimodifikasi sebagai transportasi umum. Nyaman tidak nyaman, itulah satu-satunya kendaraan yang cukup ramah di kantong. Uniknya, semua kendaraan umum disana pasti full music. Dentuman musik ambon akan mengiringi sepanjang perjalanan. Musik ambon ini terus terngiang-ngiang di telinga hingga ketika kami pulang ke jawa.





No comments:

Post a Comment