Saturday, 30 April 2016

Taxi Laut


Hari kedua setelah kedatangan kami ke Ende, kami pun dikumpulkan di kantor dinas pendidikan untuk menerima SK penugasan. Hatiku berdetak cepat sekali. SK itu akan menentukan kehidupanku selama setahun mendatang. Satu persatu temanku mulai dipanggil dan dijemput oleh kepala sekolah yang akan membawa mereka ke tempat penugasan masing-masing. Namaku pun akhirnya dipanggil dan aku diberitahu bahwa aku akan bertugas di SMP N 2 Nangapanda di kecamatan Pulau Ende. Tidak lama kemudian seorang laki-laki paruh baya menghampiriku dan memperkenalkan diri sebagai kepala SMP N 2 Nangapanda. Bapak Abdul Karim namanya. Akupun di antar untuk langsung menuju rumah beliau dan beristirahat. 
Bapak Abdul Karim dan Ibu Eni
Dirumah Bapak Karim aku bertemu dengan istrinya yang bernama ibu Eni. Ia menyambutku dengan sangat ramah. Ia sosok yang sangat suka bercerita dan kamipun segera akrab. Tidak lama kemudian kakak-kakak angkatan 3 yang berasal dari LPTK Padang dan UNY datang. Mereka sudah selesai bertugas dan akan segera pulang dalam beberapa hari. Obrolan kamipun semakin seru. Mereka menceritakan pengalaman-pengalaman mereka selama bertugas di Pulau Ende. Ketika sedang asyik bercerita, Pak Karim datang dan memberi tahu bahwa dua orang temanku yaitu Muthoharoh dan Agus. ternyata juga bertugas di Pulau Ende. Hanya saja mereka akan mengajar di SMA Pulau Ende. Aku senang sekali karena aku akan ada teman selama bertugas di sana.
 Keesokan harinya aku diantar menuju tempat penugasanku bersama kedua temanku. Kami menuju sebuah pelabuhan tempat kapal yang akan mengangkut kami menuju Pulau Ende. Sebelum berangkat kami berbelanja bahan makanan terlebih dahulu karena menurut informasi dari Pak Karim ,di tempatku bertugas nanti tidak ada pasar, jadi aku harus pergi ke kota jika ingin berbelanja. Pasar disini terletak persis di pinggir pantai. Dari kejauhan aku melihat sebuah pulau kecil di tengah lautan. Itulah pulau ende. 
Pulau Ende adalah sebuah pulau kecil di sebelah selatan pulau flores. Jika dibandingkan dengan wilayah lain, Pulau Ende boleh dibilang cukup dekat dengan kota kabupaten. Penduduk pulau ende mayoritas beragama islam. Untuk menuju kesana, kami harus menyebrangi laut sawu dengan menggunakan kapal motor. Ada tiga kapal yang beroperasi setiap hari yaitu Al-amin 1, Al-amin 2, dan Harimau. Biaya yang kami keluarkan terbilang cukup murah. Hanya tujuh ribu rupiah sekali jalan. Namun, setelah kenaikan BBM ongkos kapal meningkat menjadi Sembilan ribu rupiah. 
Taxi Laut, transportasi umum dari dan menuju pulau ende.

Kami segera naik ke salah satu kapal yang akan berangkat. Uniknya, karena pelabuhan disini tidak memiliki dermaga, dari pantai kami harus naik sampan kecil dulu. Setelah itu, kami harus memanjat ke kapal besar yang disebut Taxi. Menaiki sampan harus hari-hati dan sigap. Kita harus berlomba dengan ombak yang cukup besar. Jika salah perhitungan, bisa-bisa kami jatuh dan basah kuyup oleh air laut. Para ABK atau Anak buah kapal yang ada di sana sangat membantu kami. Kamipun berhasil menaiki kapal dengan selamat. 
Sampan yang mengantar para penumpang dari pantai ke taxi laut
Kapal pun berlayar semakin jauh. Semilir angin laut terasa begitu menenangkan. Aku duduk bersila bersama ibu-ibu yang asyik bercengkrama dengan bahasa yang tidak kupahami sambil mengunyah kapur sirih. Mataku kemudian beralih memandangi sebuah pulau yang semakin lama semakin tampak jelas. Hatiku berdebar semakin keras. Di pulau itulah aku akan hidup, mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa. 

Kota Pancasila

Endenesia

Setelah perjalanan selama kurang lebih 4 jam, tibalah aku dan teman-temanku di bandara Aroeboesman kota Ende. Tidak seperti bandara-bandara di jawa, bandara ini sangat sepi dan sederhana. Tapi justru aku sangat menyukainya. Bandara ini cukup bersih dan nyaman. Bahkan kota kelahiranku saja tidak memiliki bandara sendiri. Kesan pertamaku adalah, kota ini sangat potensial.

Bandara H. Aroeboesman Ende
Kami disambut oleh kakak SM3T angkatan 3 yang sebentar lagi akan selesai bertugas. Kami saling berkenalan dan mulai berbagi cerita. Kemudian kami diantar menuju wisma untuk beristirahat. Dalam perjalanan, mata kami mulai menjelajahi sudut-sudut kota Ende yang cukup ramai. Kota yang disebut sebagai kota kelahiran pancasila ini ternyata sudah maju. Bahkan mungkin lebih maju dari kabupaten Temanggung tempat asalku jika dilihat dari keberadaan sebuah bandara dan dua buah pelabuhan di kota ini. Akses menuju tempat ini sudah sangat mudah. Jadi seharusnya kota ini sangat potensial bukan? Namun mengapa kota ini menjadi sasaran penempatan guru SM3T? Belakangan baru kami ketahui bahwa ternyata kesenjangan di kabupaten ini sangat tinggi.
Monumen Pancasila
Ende merupakan sebuah kabupaten dengan luas wilayah kurang lebih 2046 km2. dengan populasi penduduk 238.040 jiwa. Kabupaten Ende terdiri dari 21 kecamatan dengan Kota Ende sebagai ibu kotanya.  Dari ke 21 kecamatan ini, beberapa kecamatan dapat dikatakan masih sangat tertinggal. Kecamatan – kecamatan tertinggal inilah yang sangat membutuhkan bantuan guru SM3T. Jangan dibayangkan bahwa jarak dari satu kecamatan ke kecamatan lain itu dekat seperti di jawa. Luas sebuah kecamatan di Ende seperi luas sebuah kabupaten di jawa. Perjalanan darat menjadi tantangan yang cukup dahsyat. Jalanan yang berliku-liku, sempit, dan rawan longsor mau tidak mau harus kami lewati. Rata-rata kami harus menempuh jarak 4-6 jam untuk menuju ke daerah penugasan. 
Otto kayu, kendaraan khas Ende, NTT
Kendaraan yang umum digunakan disana adalah oto kayu, sebutan untuk truk yang telah dimodifikasi sebagai transportasi umum. Nyaman tidak nyaman, itulah satu-satunya kendaraan yang cukup ramah di kantong. Uniknya, semua kendaraan umum disana pasti full music. Dentuman musik ambon akan mengiringi sepanjang perjalanan. Musik ambon ini terus terngiang-ngiang di telinga hingga ketika kami pulang ke jawa.





Awal Baru

Kelulusan dan SM-3T
Hari kelulusan
Siang itu adalah pertengahan bulan oktober 2013, hari dimana aku menyandang gelar baru sebagai sarjana pendidikan. Status baru berarti tanggung jawab baru. Sekarang aku bukan lagi mahasiswa yang bisa bersantai ria seperti dulu. Sesaat aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Tiba-tiba HPku bergetar pelan. Aku tersenyum membaca sebuah pesan singkat berisi ucapan selamat dari sahabat karibku semasa SMA dulu. Refleks, aku memandang berkeliling mencarinya. Seharusnya hari ini ia juga wisuda bersamaku, namun tak kulihat sosok lincahnya di deretan wisudawan jurusan PGSD. Teryata ia malah mengabarkan bahwa ia sedang berada di ujung timur Indonesia, di sebuah kota bernama Yahukimo, kota yang bahkan belum pernah ku dengar namanya. Ia kemudian bercerita tentang program SM3T yang mengajak lulusan sarjana pendidikan untuk mengajar di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Keren sekali, itu pendapat pertama yang muncul di benakku. Tapi membayangkan harus tinggal di pedalaman papua dengan fasilitas serba terbatas membuat nyaliku ciut. Pikiran tentang SM3T pun menguap begitu saja, dan aku mulai disibukkan dengan rutinitas baruku mengajar di sebuah bimbel di kotaku.
Tangan takdir ternyata menuntunku kembali kepada SM3T. Suatu hari ketika sedang browsing di internet, tanpa sengaja aku mendapat informasi tentang pembukaan pendaftaran SM3T angkatan 4. Iseng aku buka dan aku baca informasi tersebut. Semakin kubaca, semakin aku jatuh cinta. Namun, bayangan mengerikan tentang hidup di luar jawa masih juga menghantuiku. Ah.. tapi kupikir tidak ada salahnya coba mendaftar. 
Kegiatan prakondisi
Keisenganku ternyata benar-benar membawaku sampai ke luar jawa. Aku lolos seleksi dan harus segera berangkat mengikuti kegiatan prakondisi. Wisma sinode Salatiga menjadi tempat para peserta SM3T angkatan 4 ditempa dan dididik.  Disana aku bertemu teman-teman bermental baja yang siap berjuang di luar jawa. Kami berasal dari berbagai macam universitas dan jurusan. Dan aku bertemu dengan tiga teman kuliahku dulu dari Universitas negeri Semarang jurusan bahasa Inggris. Mereka adalah Rio, Wawan, dan Arsyi. Semangatku ikut terpompa bersama riuh rendah yel-yel yang kami teriakkan setiap hari. Kami berlajar banyak hal. Mulai dari pendalaman materi, pembuatan bahan ajar, microteaching, wawasan kebangsaan, dan adaptasi. Kemudian tiba-tiba saja 12 hari prakondisi di salatiga cepat sekali berlalu. Kami harus berpisah.. menuju daerah yang berbeda-beda. Dan aku akan di kirim ke Ende,sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Timur.
Hari terakhir prakondisi
Sebuah dilemma sempat meliputiku. Ibuku mendadak melarangku pergi. Berbagai macam mimpi buruk menghantuinya, bahwa aku tidak akan bahagia disana. Tambahan lagi, aku mendapat kabar bahwa nenekku satu – satunya kritis dan terbaring di ICU. Itu adalah saat dimana kemantapan hatiku benar-benar diuji. Sampai akhirnya aku memantapkan diri untuk tetap berangkat. Sudah sejauh ini.. aku tidak ingin mundur begitu saja. Akhirnya hari keberangkatanku sudah di depan mata. Keluargaku mengantarku menuju bandara. Ku peluk ayah dan ibuku. Kutunjukkan pada mereka semangatku agar ayah dan ibuku sanggup melepasku dengan tersenyum.
Dari jendela pesawat kutatatap hamparan sawah-sawah yang semakin menjauh. Aku menyemangati diriku sendiri. Ku bisikkan harapan positif bahwa tempat yang kutuju nanti adalah tempat yang menyenangkan, bahwa ini adalah titik awal perjuanganku sebagai guru, sebagai ujung tombak negeri ini. Pesawat berhenti di bandara Ngurah Rai Bali dan kamipun harus berganti ke pesawat yang lebih kecil. Ternyata jalur penerbangan ke kota Ende harus menggunakan pesawat baling-baling yang menurutku tampak sedikit ekstrim. Benar saja, pesawat ini berdengung dan berguncang beberapa kali selama penerbangan kami menuju Ende. Sensasi bahwa kami segera menuju daerah 3T semakin terasa. Namun karena lelah tanpa sadar aku terlelap, tenggelam dalam mimpi yang tidak dapat kuingat. Entah berapa lama aku tertidur,  ketika aku membuka mata dan melongok ke jendela pesawat pemandangan yang kulihat membuatku terpana. Hamparan pulau tropis berwarna coklat..putih..hijau..dan pink! Ya, pink. Dikelilingi selimut biru yang berkilau-kilau. Dimana aku? Apa aku masih bermimpi? Belakangan aku baru tahu bahwa aku berada di atas Labuan bajo, sebuah kota di ujung barat pulau flores. Warna pink yang kulihat dari atas tadi adalah deretan pasir pantai pink yang tersohor keindahannya itu. Belum 2 jam aku meninggalkan pulau jawa, aku sudah disuguhi karya Tuhan yang begitu indahnya, yang tidak akan kulihat jika aku tidak keluar dari pulau jawa. Aku merasa bersyukur atas pilihanku mengikuti program SM3T. Aku semakin mantap melangkah. Yakin, bahwa setahun kedepan akan penuh dengan hal – hal indah seperti ini.