Wednesday, 11 May 2016

Rayuan Pulau Ende

Siang itu adalah hari pertamaku menuju pulau ende, pulau kecil tempat pengabdianku selama setahun. Kumpulan batu karang dan pasir laut menghentikan laju sampan yang aku naiki. Pandanganku menyapu wajah – wajah yang menantiku di pinggir pantai. Anak-anak ini menatap ingin tahu, kulit mereka terbakar matahari, rambut mereka merah dan setengah basah, khas anak-anak pesisir pantai. Aku melempar senyum, dan mereka pun tersenyum padaku. Ibu Siti, salah seorang guru yang sudah kukenal sebelumnya, mengatakan sesuatu pada anak-anak itu dalam bahasa yang tidak ku mengerti. Tiba-tiba mereka dengan sigap mengambil seluruh barang bawaan kami. Anak-anak kecil ini tak kusangka begitu kuat. Koper besarku yang tidak kurang dari 20kg enteng saja dipanggulnya di bahu. Kami mengikuti mereka yang akan mengantarkan kami ke sekolah tempat pengabdian kami, SMP N 2 Nangapanda. Ternyata jalannya cukup mendaki. SMP ini terletak di lereng bukit. Belum apa-apa nafasku sudah mulai ngos-ngosan. Tapi anak-anak ini tampak tidak lelah sedikitpun. Mereka terus berceloteh ria dalam bahasa yang belum pernah kudengar sebelumnya. Tampak sekali bila aku tidak terbiasa berjalan kaki. Diam-diam aku tersenyum malu.
Di sepanjang jalan kami melewati rumah-rumah penduduk yang sangat sederhana. Banyak dari rumah-rumah itu masih berdinding papan. Seorang ibu tampak duduk di depan rumahnya menenun sesuatu. Kami berusaha ramah dan menyapanya sebisa kami. Ibu itu tersenyum dan membalas sapaan kami. Matanya mengikuti kami ingin tahu. Beberapa kali kami bertemu dan menyapa penduduk yang akan menjadi tetangga kami selama setahun kedepan. Mereka semua sangat ramah dan bersahabat.
Tak lama, sampailah kami di kompleks SMP N 2 Nangapanda. Bangunan sekolah tampak berdiri kokoh bersusun-susun di lereng perbukitan. Bangunannya sudah cukup modern, kurang lebih sama dengan sekolah-sekolah di jawa. Menurut cerita SMP ini adalah SMP pertama yang berdiri di Pulau Ende. Dari bentuk bangunannya tampaknya sekolah ini cukup mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Di samping sekolah terdapat bangunan non permanen yang merupakan mes guru. Mes guru ini ukurannya kecil dan berdinding papan. Anak-anak ternyata tidak mengantar kami ke mes itu melainkan ke sebuah bangunan yang tampak seperti lab IPA. Ternyata lab ini difungsikan sebagai mes sementara untuk guru-guru yang belum mendapat tempat tinggal. Sebagian besar guru di sekolah ini didatangkan dari Ende, sehingga sekolah harus menyediakan tempat tinggal bagi para guru ini. Di lab inilah kami akan tinggal selama setahun kedepan.

Tiba-tiba dari dalam lab muncul seorang wanita berumur 30an memperkenalkan diri sebagai Ibu Yuni, guru bahasa Indonesia yang juga akan tinggal di lab bersama kami. Ia menunjukkan kamar kami, sebuah ruangan di lab yang disekat dengan dua buah papan. Didalam kamar sudah ada dua buah kasur lantai dan beberapa bantal. Aku memandang berkeliling, perasaan nyaman mulai menyusupi. Saat itu aku yakin aku akan betah tinggal disini selama setahun ke depan. Dan benar saja. Orang bilang waktu akan berlalu lebih cepat ketika kita menikmatinya. Itulah yang kurasakan. Setahun disana, anak-anak pulau ini benar-benar telah menyita seluruh perhatian dan waktuku. Aku tenggelam dalam kesibukanku menyelami kehidupan muridku yang beragam. Karakter mereka unik sekali. Hanya satu tahun yang tentu saja sama sekali tidak cukup bagiku untuk memahami mereka satu persatu. Dan ketika aku pulang, terasa sekali ada bagian yang hilang. Pulau ini, anak-anak disini, entah bagaimana telah mengukir satu cerita yang tidak mungkin terlupakan. Pulau Ende, rayuanmu begitu memabukkan.