Siang itu adalah hari pertamaku menuju pulau ende, pulau kecil tempat pengabdianku selama setahun. Kumpulan batu karang dan pasir laut menghentikan laju
sampan yang aku naiki. Pandanganku menyapu wajah – wajah yang menantiku di
pinggir pantai. Anak-anak ini menatap ingin tahu, kulit mereka terbakar
matahari, rambut mereka merah dan setengah basah, khas anak-anak pesisir
pantai. Aku melempar senyum, dan mereka pun tersenyum padaku. Ibu Siti, salah
seorang guru yang sudah kukenal sebelumnya, mengatakan sesuatu pada anak-anak
itu dalam bahasa yang tidak ku mengerti. Tiba-tiba mereka dengan sigap
mengambil seluruh barang bawaan kami. Anak-anak kecil ini tak kusangka begitu
kuat. Koper besarku yang tidak kurang dari 20kg enteng saja dipanggulnya di
bahu. Kami mengikuti mereka yang akan mengantarkan kami ke sekolah tempat
pengabdian kami, SMP N 2 Nangapanda. Ternyata jalannya cukup mendaki. SMP ini
terletak di lereng bukit. Belum apa-apa nafasku sudah mulai ngos-ngosan. Tapi
anak-anak ini tampak tidak lelah sedikitpun. Mereka terus berceloteh ria dalam
bahasa yang belum pernah kudengar sebelumnya. Tampak sekali bila aku tidak
terbiasa berjalan kaki. Diam-diam aku tersenyum malu.
Di sepanjang jalan kami melewati rumah-rumah penduduk
yang sangat sederhana. Banyak dari rumah-rumah itu masih berdinding papan.
Seorang ibu tampak duduk di depan rumahnya menenun sesuatu. Kami berusaha ramah
dan menyapanya sebisa kami. Ibu itu tersenyum dan membalas sapaan kami. Matanya
mengikuti kami ingin tahu. Beberapa kali kami bertemu dan menyapa penduduk yang
akan menjadi tetangga kami selama setahun kedepan. Mereka semua sangat ramah
dan bersahabat.
Tak lama, sampailah kami di kompleks SMP N 2 Nangapanda.
Bangunan sekolah tampak berdiri kokoh bersusun-susun di lereng perbukitan.
Bangunannya sudah cukup modern, kurang lebih sama dengan sekolah-sekolah di
jawa. Menurut cerita SMP ini adalah SMP pertama yang berdiri di Pulau Ende.
Dari bentuk bangunannya tampaknya sekolah ini cukup mendapat perhatian dari
pemerintah daerah. Di samping sekolah terdapat bangunan non permanen yang
merupakan mes guru. Mes guru ini ukurannya kecil dan berdinding papan.
Anak-anak ternyata tidak mengantar kami ke mes itu melainkan ke sebuah bangunan
yang tampak seperti lab IPA. Ternyata lab ini difungsikan sebagai mes sementara
untuk guru-guru yang belum mendapat tempat tinggal. Sebagian besar guru di
sekolah ini didatangkan dari Ende, sehingga sekolah harus menyediakan tempat
tinggal bagi para guru ini. Di lab inilah kami akan tinggal selama setahun
kedepan.
Tiba-tiba dari dalam lab muncul seorang wanita berumur
30an memperkenalkan diri sebagai Ibu Yuni, guru bahasa Indonesia yang juga akan
tinggal di lab bersama kami. Ia menunjukkan kamar kami, sebuah ruangan di lab
yang disekat dengan dua buah papan. Didalam kamar sudah ada dua buah kasur lantai
dan beberapa bantal. Aku memandang berkeliling, perasaan nyaman mulai
menyusupi. Saat itu aku yakin aku akan betah tinggal disini selama setahun ke
depan. Dan benar saja. Orang bilang waktu akan berlalu lebih cepat ketika kita
menikmatinya. Itulah yang kurasakan. Setahun disana, anak-anak pulau ini benar-benar telah
menyita seluruh perhatian dan waktuku. Aku tenggelam dalam kesibukanku
menyelami kehidupan muridku yang beragam. Karakter mereka unik sekali. Hanya satu tahun yang tentu saja sama sekali tidak cukup bagiku untuk memahami mereka satu persatu. Dan ketika aku pulang, terasa sekali ada bagian yang hilang. Pulau ini, anak-anak disini, entah bagaimana telah mengukir satu cerita yang tidak mungkin terlupakan. Pulau Ende, rayuanmu begitu memabukkan.